Album Review: Muse - The 2nd Law

Jun 21, 2013

Maaf kalau saya harus mengulas album ini terlalu lama dari waktu rilisnya karena saya sendiri juga baru saja beli albumnya beberapa hari yang lalu dan dengan niat yang cukup bulat saya sudah dengar seluruh treknya. Bagaimana saya akan mengulas album teranyar dari band asal UK ini?

Sebagai catatan pribadi, saya bukanlah penggemar berat Matthew Bellamy dan kawan – kawan (bahkan saya belum mendengar album sebelumnya, The Resistance). Sejenak setelah mendengar album ini secara keseluruhan, saya jadi benar – benar ingin mendengar album sebelumnya untuk bisa membandingkan seberapa kemajuan (atau kemunduran, saya tidak tahu) yang telah dicapai band ini dalam materi baru yang telah mereka sampaikan ke khalayak ramai. Atau bahkan akan lebih tepat lagi apabila saya mendengar album debut mereka, Showbiz, supaya saya tahu bagaimana ciri khas akar musik mereka.


Well, it can be true that this album is pretty experimental. Band beraliran alternative ini berani mencampurkan unsur – unsur lain dalam pengerjaan trek – treknya. Namun saya belum berani menjamin bagi mereka yang masih berada di zona nyaman mereka dalam menikmati komposisi musik yang baru, meskipun dalam hal ini Muse sudah sedemikian rupa menyesuaikan materi mereka untuk bisa didengar siapapun. Mereka sudah dengan sukarela menambahkan permainan orchestral dan bahkan sedikit unsur dubstep ringan. Sungguh, tidak ada yang salah dalam hal ini, namun rupanya tetap saja Muse menyajikan trek – trek galak khas mereka yang antemik, politis, dan penuh konspirasi. Hal inilah yang membuat album ini dipikir sebagai yang ‘disegani namun kurang berada’ karena masih ada kesan jenius yang berlebih, jika hal ini benar – benar dirasa.

Cobalah untuk menyimak Supremacy, Panic Station, dan Liquid Station. Kekuatan di permainan bass yang terdengar jelas dan perkusi drum professional yang tidak macam – macam dalam menyampaikan maksud lagu yang berbau politik. Lebih – lebih Supremacy dengan marching-band-scored-track dengan instrument snare drum yang terdengar sayup – sayup namun mendominasi menjadikan trek ini adalah salah satu yang terfavorit baik bagi kritikus dan tentu saja para penggemar. Sebuah keputusan yang apik, mengetahui bahwa lagu ini akhirnya dijadikan single juga.

Jangan abaikan satu paket lagu dari album ini yang dijadikan lead single, sekaligus dipakai menjadi theme song Olimpiade London 2012, Survival dan preludenya yang klasik. Abaikan kata – kata para kritikus yang menyebut anthem ini sebagai trek yang gagal, nyatanya banyak juga penikmat musik yang puas dengan trek ini sebagai bentuk comeback Muse ke industri musik setelah The Resistance. Yah, memang ada benarnya sangat kontras antara kemampuan vokal Matthew dan melodi yang dibuat sedemikian rupa sehingga terkesan ‘ngoyo’ (Indonesia: ngotot). But, just listen to it and you’re going to understand.

Kemudian, dubstep muncul di beberapa nomor, diantaranya Madness dan Follow Me. Penggunaan dubstep di Madness untung tidak berlebihan sehingga ikatan emosi yang dijalin kepada pendengar tentang ‘kegilaanku padamu’ tidak hilang seketika. Excellent electro-ballad. Untuk Follow Me, dubstep yang terdengar tidak banyak, bahkan baru muncul di tengah – tengah lagu. Meskipun treknya bagus, sayangnya dubstep sedikit membuat kegaduhan. Bisa dikatakan, intro lagu ini menipu. Padahal lagu ini mengajak kita untuk tidak berlama – lama untuk berada di kegelapan. Entahlah, apa yang dipikirkan mereka dalam membuat komposisinya. Mengada – ada? Boleh jadi. Mengada – ada yang beruntung, itu yang bisa saya katakan. Masih belum cukup dubstep? Simak The 2nd Law – Unsustainable.

Meskipun digadang – gadang Supremacy atau Save Me adalah trek yang terbaik diantara semuanya (<< hasil stalking beberapa sumber), saya justru terpancang di Explorers. Intro bak nina bobo lah yang membuat saya sejenak bisa mendengar lagu ini seketika. Vokalnya yang berbisik, mid-tempo ballad yang dimainkan bisa jadi lagu tidur yang bermakna bagi kita. Saya pikir malah trek inilah yang menjadi trek terbaik yang disajikan dalam album ini. Sederhana dan penuh arti.

Overall, album ini tidak begitu buruk untuk dinikmati. Bukti bahwa mereka dapat merajai chart album UK dan debut (serta peak) di nomor 2 Billboard 200 Albums (hanya selisih beberapa copy dengan saudara senegara mereka, Mumford & Sons) adalah bukti loyalitas fans mereka. Awalnya agak sulit untuk kita menerima semua trek dalam satu album karena semua materinya bukan materi yang catchy dan bukan tipe bubblegum pop yang sedang ngetren saat ini (I’m so sorry, One Direction, you’re not smart enough to go further than this senior band!). Namun, seperti Born This Way-nya Lady Gaga, sekalinya kalian nyambung, akan terus ingin mendengarkan. Abadi? Bisa dikatakan demikian. Silahkan menikmati album ini. You’re gonna feel what I’m feeling.


Untuk para Musers, ada yang bisa ditambahkan atau dikoreksi dari review saya, berhubung saya adalah termasuk ‘yang awam’ bagi dunia musik Muse? J

0 comments:

Post a Comment

Give comments here. No provocating, SARA, and be peace!